Kamis, 11 April 2019

Alasan dan Persiapan Backpakeran ke India Ala Oma Opa (Catatan Perjalan India_1)


Aku tidak tahu dimana ujung perjalanan ini, aku tidak  bisa menjanjikan apapun.  Tapi, selama aku mampu, mimi-mimpi kita adalah prioritas_jagokata.com

Banyak cara orang untuk menikmati hidup pada usia yang tidak tergolong muda lagi. Mengisi liburan disela-sela rutinitas yang biasa dilakukan untuk melanjutkan kehidupan didunia yang fanna ini.  Alhamdulillah, kami suami istri mempunyai hobby yang sama yaitu refreshing  dengan jalan-jalan melihat indahnya ciptaan Ilahi di belaham dunia yang berbeda.   Alam yang terbentang luas dihuni manusia dari berbagai ragam suku, budaya, bahasa dan agama. Setelah mengunjungi beberapa kota yang ada di Indonesia, rasanya ingin melihat sesuatu yang berbeda dengan apa yang pernah terlihat di negara sendiri.

Alasan Memilih Destnasi Wisata India
Sebelumnya, kami sudah mengunjungi beberapa negara yang ada di Asia Tenggara dan Asia. Dulu, kami sering menonton film India dan menyukai lagu India.  Karena kami berdua adalah seorang pendidik, maka kami memutuskan mengunjungi India pada bulan Desember tepat pada liburan semester siswa tahun kemarin.  Akh, rasanya sudah terbayang dipelupuk mata artis idola saya, Syahrul Khan menari nari bersama Priyanka dengan sarinya. Sungguh tidak sabar menunggu hari H-nya yaitu keberangkatan tanggal 24 desember. Teringat sungai Gangga yang terkenal sebagai tempat umat Hindu mensucikan dirinya. Letaknya jauh dari Delhi di Varanasi yang sebelumnya bernama Baneres.
 
Pic by Dokumen Pribadi
Saya juga teringat Mother Theresa sebagai pejuang kemiskinan di Calcutta yang sekarang berganti nama menjadi Kolkata.  Jadi tidak sabar melihat bintang filem Bollywood di Mumbay yang dulu kenal dengan nama Bombay.  Inilah kira-kira alasan kami memilih India tapi yang lebih mendasari dari itu semua adalah melihat secara dekat peninggalan bersejarah peradaban tempo dulu.

Persiapan Perjalanan
Ada banyak hal yang perlu disiapkan sebelum kita bepergian backpaker-an adalah:
1.     Pilih Destinasi Wisata Tujuan
2.     Tiket Pesawat dan Hotel
Tiket pesawat dibeli jauh sebelum hari keberangkatan. Begitu juga dengan penginapan yang harus dibooking lebih awal.  Zaman sekarang ini semuanya sudah dipermudah sebab tiket dan hotel bisa dibeli melalui Traveloka, pegi-pegi, airy dan unicorn, dan masih banyak lagi aplikasi sejenis lainnya.
3.     Pembuatan Paspor dan Visa
Pembuatan paspor dan visa adalah dokumen yang sangat penting disiapkan sebelum melakukan perjalanan. Visa bisa diurus secara online bisa juga dengan manual yang dibantu oleh agent-agent travel yang sudah terpercaya. Sebelumnya, kami pernah menggunakan jasa Avia Tour dan Dwi Daya Tour untuk pengurusan visa dengan membayar sejumlah uang yang sudah ditetapkan oleh agent masing-masing.  



Awalnya kami minta bantuan agent untuk kepengurusan visa tapi tidak jadi karena mahal. Untuk satu orang dikenai biaya Rp.1.700.000,. per orang.  Jadi, biaya untuk 2 orang, harus mengeluarkan kocek leboh dari  3 juta rupiah.  Saya lalu  berpikir 7x menghabiskan uang sebanyak ini,  padahal mengurus visa  secara Online itu tidak bayar sama sekali.  Maka diputuskanlah untuk Visa Online yang dibantu oleh anak kami meng-apply-kannya, dengan mengisi format yang sudah disediakan oleh pihak kedutaan India yang ada di Jakarta.

Ada beberapa berkas yang harus dipersiapkan kalau kita ingin apply visa India secara online, tidak sebanyak syarat mengurusnya secara manual. Diantaranya adalah kita harus scan paspor, KTP, pas photo yang terbaru yang dialamatkan ke kedutaan India. Setelah persyaratannya kita kirim ke e-mailnya, kita harus menunggu di proses dulu selama 10 hari.  Kalau sudah memenuhi persyaratan yang diminta visa granted kita akan dikirim melalui e-mail. Lah inilah karena kekurang hati-hatian sebelum keberangkatan print out yang dibawa yang bukan granted nya tapi apply visa nya.

Pengalaman Di Airport
Pesawat ke India (Del Airport)  berangkat pukul 7 malam setelah magrib.  Sedangkan kami tiba di Kuala Lumpur (KL) waktu Zuhur dari BWN (Brunei airport).  Artinya kami ada waktu untuk rehat panjang sebelum keberangkatan karena proses imigrasinya tidak terlalu lama . Tidak ada sama sekali pikiran dengan granted visa yang wajib di print out sebelum  check in.  Sibuklah kami menghubungi anak namun tidak ada jawaban karena dia bekerja seharian. Berusaha buka e-mail di HP namun tidak berhasil karena password nya lupa. kami benar-benar galau akut waktu itu. Suami langsung buka e-mailnya rupanya granted visa suami ada, sedangkan Visa granted saya belum ada. Turun naik tangga di KLIA 2, ke lantai 1 untuk membeli kartu sim card Kuala Lumpur untuk menelpon anak yang sedang bekerja di Brunei. Setelah dihubungi beberapa kali baru tersambung , lega rasanya . Alhasil e-mail anak yang buka rupanya granted visanya sudah dikirim. Alhamdulillah bisa dikirim lewat WA saja. 

Akhirnya, kami  ke counter check in lagi,  petugas tidak terima granted visa yang tidak di Print.  Dengan tergopoh-gopoh kami pergi ngeprint visa di lantai 2.  Rupanya kita harus membayar 2 helai printnya 60 ringgit.  Ini jelas mahal sekali tapi tidak apa-apa kertas inilah yang bisa membuat keberangkatan ke Delhi malam itu.  Menjadi i’tibar atau pembelajaran bagi traveler yang lainnya supaya seluruh dokumen yang diperlukan harus ada print out meskipun tidak diminta oleh petugas.

Selesailah proses check in, tapi dag dig dug nya belum selesai karena barang bawaan melebihi ketentuan. Kalau tidak mau membayar tambahan bagasi karena mahal untuk penerbangan Internasional, kami gunakan cara akal orang tua yaitu  big travelnya diletakkan jauh dengan counter check in yang dibawa.  Cuma tas sandang yang ditangan rupanya lolos di counter check in. Tidak selesai di counter saatnya masuk gate P untuk penerbangan Internasional,  eeh... ada 2 orang petugas lagi yang menimbang barang bawaan si penumpang.  Kalau ditimbang lagi pasti tidak bakalan lolos.  Akhirnya saya gunakan akal lagi agar bisa masuk. Saya masuk duluan dengan tas yang memenuhi syarat yaitu 7 kg karena kami berdua,  tasnya diletakkan dulu didalam lalu diam2 saya keluar lagi ambil tas yang lain lagi rupanya lolos dengan cara itu, tetap tidak nyaman takut dikejar petugas waktu proses immigrasi di dalam.

Proses Immigrasi inilah yang sangat melelahkan dan membosankan bagi semua orang.  Saking ramainya orang bepergian dibulan Desember yang high season istilah untuk menutup tahun.  Yaahh....,  Dinikmati saja semuanya,  angkat-angkat di x-ray pemeriksaan tidak cuma 1x ada 2x untuk sampai diruang tunggu keberangkatan pesawat ke DEL { Delhi airport}.  Bandara KLIA2 yang sangat luas.  Akhirnya tanpa delay boarding juga pas sesuai yang tertera ditiket, kami terbang juga selama 5 jam penerbangan baru tiba di Del pukul 10.00 waktu setempat.  Tidur di bandara harus kuat untuk para traveler karena dengan cuaca yang dingin tidak mungkin keluar bandara.  Bulan desember adalah musim dingin di India jadi perlu baju tebal yang bisa menghangatkan tubuh.  Tidur seadanya diatas kursi bandara membuat badan tidak nyaman. 

Alhamdulillah..., kami sudah tiba di India.

Bersambung.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar